GETTING FOMO IS FINE?

 

GETTING FOMO IS FINE?

Sudah tak heran rasanya apabila kita melihat lingkungan sekitar yang tak bisa lepas dari media sosial, bener gak nih? Bener dong hehe… bahkan ketika melihat keluarga satu rumah pun untuk berkomunikasi satu sama lain lewat hp, karena apa?

Karena lebih mudah untuk berkomunikasi karena focus kita setiap hari pada sosmed atau hp yang kita pegang, daripada menegurnya secara langsung yang kecil sekali untuk mendapatkan respond maka lebih cepat menghubunginya melalui hp (via wa, telfon, dll). Apakah itu wajar?

 

Oh tentu tidak  ferguso :p….

 

Hal lain yang paling unik dengan adanya kemajuan dunia digital ini adalah standar kecantikan/kegantengan seseorang diukur dari jumlah ‘like’ di Instagram, parah banget gak tuh?

Sebenarnya tidak ada yang menjustifikasi hal tersebut secara langsung bahwa jumlah ‘like’ menilai kecantikan/kegantengan seseorang, namun orang yang mengupload foto tersebut di Instagram pasti merasakannya dan hal inilah yang membuat beberapa orang merasa ‘cemas’ kalau jumlah like foto/videonya sedikit karena takut ada penilaian miring terhadap dirinya.

 

Seperti apa?

 

Misalnya penilaian tersebut muncul seperti “Kok likenya dikit banget sih, wajar sih soalnya burik bgt”, “Gak like ah kurang aesthetic fotonya”.. dan masih banyak lagi..

 

Fakta dilapangan membuktikan bahwa standar penilaian seseorang dengan jumlah ‘like dan komen’ di sosial media bukan berlaku untuk menilai seseorang tersebut cantik/gantengnya tapi bisa dijadikan acuan untuk penilaian yang lainnya seperti  popularitas, relasi, dan masih banyak lagi. Bahkan ada orang yang tidak mau memfollback atau berteman di sosial media karena jumlah followers dan like nya yang sedikit.

 

Dengan hal-hal seperti itulah media sosial menjadi berbahaya karena akan berdampak kepada penggunanya secara tidak langsung dan tanpa kita sadari.

 

Dampak seperti apa saja itu? Akan muncul rasa takut ketinggalan trend, menjadikan medsos sebagai tolak ukur kehidupan, tidak bisa hidup tanpa gadget, berfokus pada pencapain di sosmed, tidak bersyukur karena selalu membandingkan dengan orang lain, semua aktivitas kehidupan jadi konsumsi public, berusaha pengen hits dengan berbagai cara.

Hal inilah yang disebut dengan ‘FOMO’ (Fear Of Missing Out) yang dapat diartikan dimana seseorang merassa cemas yang berlebih dan merasa takut ketinggalan trend di media sosial yang sedang berjalan.

Berdasarkan data dari Trust Pulse sebesar 69% orang mengalami FOMO.

 

Bayangkan apa semua generasi seperti? Bagaimana dengan kehidupan di masa depan yang akan datang?

Huftt.. benar-benar tidak bisa dibayangkan akan seperti apa kedepannya

 

Urgensi yang akan datang di masa depan apabila presentase FOMO terus meningkat dan dialami oleh semua orang adalah sebagai berikut:

1. Kehidupan dunia nyata tidak ada artinya

Dalam hal ini berarti prioritas kehidupan bergantung pada sosial media, sehingga kehidupan di dunia nyata buka menjadi suatu hal yang penting.

Hal ini akan berpengaruh terhadap sirkulasi kehidupan dimana budaya komunikasi antar sesame manusia akan berkurang, kompetisi dalam kehidupan akan berkurang karena lebih focus pada trend dan ingin berkompetisi di sosial media seperti jumlah followers, like, komen, dll… sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan hal tersebut, tak sedikit orang membuat konten yang konyol bahkan kontroversi dan tidak mendidik untuk mendapatkan point tersebut.

 

2. Sulit berkembang

Karena media sosial menjadi suatu patokan dalam menilai seseorang apabila FOMO ini terus meningkat maka manusia akan sulit untuk berkembang berdasarkan kualitas di kehidupan aslinya.

Karena apa?

Karena mereka sudah nyaman dengan media sosial, dimana di kehidupan nyata tidak mendapatkan apa yang di inginkan namun di media sosial hal tersebut bisa dicapai.

Misalnya di dunia nyata pendapat atau keberadaannya tidak pernah diakui namun saat berada di sosial media dia merasa keberadaannya diakui dan bahkan menjadi pusat perhatian, walaupun saat bermain sosial media tersebut menggunakan identitas palsu bukan dirinya yang sebenarnya.

Hal inilah yang akan menggambarkan bagaimana kesulitan yang akan dihadapi di masa depan apabila FOMO terus merajalela, dan karena ini pula manusia akan sulit untuk berperan dan berkompetisi di dunia asli yang menggunakan identitas aslinya.

 

Mengerikan sekali ya apabila semua orang mengalami hal tersebut, walaupun hanya 4 kata ‘FOMO’ namun dapat berdampak 9 kata ‘MERUGIKAN’.

Maka dari itu ini sangat penting untuk kita perhatikan  karena dengan FOMO dapat berdampak ke berbagai aspek dalam kehidupan, walaupun penyebabnya hanya ‘SOSIAL MEDIA’ namun dapat berdampak ke berbagai aspek.

 

Maka dari itu, perlu Tindakan untuk bisa menghentikan FOMO minimal dalam diri sendiri, selanjutnya bisa disebarkan kepada khalayak umum.

 

Daripada FOMO lebih baik kita mengenal JOMO (Joy of Missing Out)  dimana JOMO ini adalah perasaan seseorang yang merasa senang ketika tidak harus mengikuti trend yang terjadi.

 

Sebagai insan akademis ada beberapa point yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1. Untuk diri sendiri

Bisa mulai dengan mendefinisikan bahwa media sosial bukanlah segalanya, batasi penggunaan sosial media, mengatur jadwal yang efektif dengan gadget, focus pada cita-cita dan tujuan hidup di dunia nyata, dan selalu bersyukur untuk apa yang kita miliki.

Walaupun awalnya ini tidak mudah, namun dengan konsisten untuk menerapkannya maka akan terbiasa dan siap menjadi JOMO :D

 

2. Lingkungan

Sebagai seorang mahasiswa misalnya kita tidak punya power yang kuat untuk mencegah semua masyarakat terkena FOMO dan membatasi penggunaan sosmednya, namun ada beberapa cara yang bisa kita lakukan seperti kampanye di media sosial mengenai bahaya FOMO, mengajak teman untuk melakukan hal prooduktif tanpa sosmed, membuat kegiatan yang lebih bermakna untuk menggapai tujuan hidup di dunia nyata.

 

Gimana nih setelah membaca beberapa deskripsi di atas apakah kamu terkena FOMO? :D

 

Yuk mulai sekarang kita harus lebih berfokus pada kehidupan di dunia nyata.

 

Bye FOMO, welcome JOMO

 


Referensi:

https://www.sehatq.com/artikel/mengenal-jomo-kebalikan-fomo-yang-lebih-menyenangkan#:~:text=Sebaliknya%2C%20joy%20of%20missing%20out%20atau%20JOMO%20adalah,out%20sebenarnya%20memiliki%20kecerdasan%20emosional%20yang%20tidak%20biasa.

https://glints.com/id/lowongan/cara-mengatasi-fomo/

https://qwords.com/blog/fomo-adalah/

instagram: studio sanjunipero

 

 

 

Komentar

Postingan Populer